Rendo Ariya Wibawa

Thursday, January 01, 2009

Travel Notes: Bergen, Norway (recap)

Ada request dari temen, supaya nge-bikin travel notes untuk yang lalu-lalu, kali ini dicoba mulai tapi mungkin detail level nya bakal kurang karena banyak yang sudah lupa :D

Bergen, Norway, dulu ke kota ini juga karena di-recommend seseorang, jadi pas abis ada acara kantor di Kista, Stockholm, Sweden, iseng cari pesawat ke Bergen dari Arlanda airport di Stockholm sambil sekalian ijin cuti nambah hari sebelum balik ngantor di Jakarta. Tiket pesawat asli nya waktu itu adalah ARN-FRA-CGK akhirnya korbankan tiket ke Frankfurt dan beli tiket low cost airline dari Arlanda ke Bergen dan Bergen - Frankfurt transit di Copenhagen.

Bergen memang salah satu kota tujuan wisata, posisinya di Norway sisi pinggi samudra atlantik lebih atas dari Oslo. Dari Arlanda pagi, sampai Bergen siang, naik airport shuttle bus hampir sejam ke tengah kota karena bandara cukup jauh di pingiran di gunung. Turun bus persis di depan peta kota, dan touris office ternyata ga jauh dari sana. Karena waktu di airport ga nemu loker penitipan barang, tas koper terpaksa harus digeret di bawa ke sana kemari, termasuk ke tourist office baru abis itu jalan lagi ke tempat penginepan. Penginepan, seperti biasa ngandalin http://www.hostelworld.com/ My preference for this hostel booking adalah cari yang cuma isi 2 bed, kalau murah book 2-2nya biar serasa kamar private. Kenapa cari yang 2 bed, karena biasanya yang isi 2 bed, itu aslinya hotel beneran tapi sama si hotel, ga disewain per kamar, tapi di-retailkan per bed, via agent2 hostel.

Balik lagi ke suasana kota, Bergen kota pelabuhan yang juga kota wisata, kota kecil tapi dia punya laut dan gunung. Di pelabuhan, banyak orang jualan di model pasar kaget, dengan pemandangan di belakang parkiran yacht yang mewah2.

Besok paginya ambil 1 day tour ke gunung dan fjord, yaitu laut sempit yang berada di tengah-tengah gunung tinggi. Dimulai dengan naik kereta api dari Bergen ke Myrdal, di sana ganti kereta tua yang khusus untuk tourist tapi masih kuat naik dengan tingkat kemiringan cukup tinggi ngelewatin puncak yang bulan Mei masih punya salju plus air terjun yang deres. Kereta tua stop di Flam, di sana ada meseum kereta tua plus stop point untuk para turis. Saatnya makan di sana dan cari souvenir. Perjalanan darat kemedian ganti jadi perjalanan air naik ferry sampai balik ke Bergen. Enaknya paket tour nya adalah kita bebas milih jam berangkat tiap kereta atau feri, kita punya tiket 1 kali jalan muter dari Bergen sampai Bergen lagi, terserah mau naik yang kapan, jadi misal mau stay di salah satu stop point tadi pun ga masalah.

Balik sampai Bergen udah jam 7 malem, cari makan di McD, balik ke hotel (eh hostel) sampai jam 9 an dan ga berani tidur, karena pesawat besok pagi dari Bergen ke Copenhagen terus Frankfurt jam 6 pagi yang artinya harus naik bus pertama dari kota ke airport jam 4 lewat dikit. Jalan ke stasiun butuh sekitar 20 menitan, jadi biar aman dan ga ketiduran lagi jam 1/2 4 pagi mending jalan dingin-dingin ke terminal.

Transit bentar di CPH, sampai di Frankfurt siang. Sambil nunggu pesawat ke Jakarta malem, jalan muter2 Frankfurt am Main, yang isinya cuman gedung2 tinggi, tapi kebetulan pas itu ada event festival apa, lupa, jadi lumayan banyak tontonan :D

Foto-foto ada di http://picasaweb.google.com/rendo.aw/NorwayBergenFjordTours

Sedangkan source lain tentang Bergen: http://wikitravel.org/en/Bergen

Travel Notes: Hanoi, Vietnam

Hanoi, Vietnam, selama ini mungkin cuman pernah denger dan tahu dari film2 perang, cerita tentang vietkong dan sebagainya.

Jadi mungkin karena terpengaruh image film-film itu, pas mendarat di Bandara Hanoi, impresion pertama adalah suasana yang agak intimidating, ngeliat banyak orang pake seragam hijau lengkap plus topi dengan bintang merah satu di tengah apalagi semakin mendekati bagian imigrasi. Tapi ternyata ga ada masalah, imigrasi lancar, cuman ada sedikit aneh, petugas imigrasi sepertinya hobinya nge-cap di halaman terakhir passport.

di sebelah imigrasi, cuman dibatesi pager portable pendek, langsung tempat ambil bagasi dan langsung pintu keluar. Terminal kedatangan memang cukup kecil, masih lebih kecil dari Bandara Juanda Surabaya. Begitu keluar, tanpa tahu sebenernya bakal dijemput atau nggak, iseng2 toleh-toleh, ternyata liat orang bawa kertas gede isi namaku di sana. Begitu dideketin, ternyata ga bisa bahasa inggris sama sekali, akhirnya dengan bahasa tarzan, dia ngerti dan langsung nganter ke tempat penginapan.

Secara umum, image yang sekilas tertangkap adalah, Hanoi lebih mirip kayak Jogja atau Solo, sepeda motor dan sepeda pancal banyak banget, jalanan ruwet, ga bakal bisa ngebut, dan orangnya pada ngawur-ngawur. Tau-tau motong hal biasa di sini, serempetan motor hal biasa, bahkan karena biasanya, berapa kali lihat tabrakan motor sampai orang nya jatuh, tetep aja nggak ada eyel-eyelan kayak tabrakan motor di jakarta. Di sini kedua oknum yang tabrakan berdiriin motor masing-masing terus jalan lagi. Mungkin memang karena budaya nya gitu dan saking biasanya tabrakan, jadi itu semua hal lumrah :D

Kalau pas di posting sebelumnya tentang Doha, banyak mobil ringsek gara2 speeding dan tabrakan, di sini kebalikannya, ringsek belum pernah liat, tapi kalau beret-beret, spion pecah, gampang banget ditemuin.

Selain masalah bahasa, kotanya sendiri enak, cuaca pas lagi enak-enaknya, dingin nya pas serasa di Bandung kalau malam. Ada beberapa danau di tengah kota, mulai yang kecil sampai yang gede. Toko-toko standard asia, buka sampai malam, tapi mungkin mall dikit banget di sini, itu kenapa tadi Hanoi kusejajarin sama Jogja atau Solo (sorry buat orang Jogja/Solo kalau salah, udah lama ga kesana :D ). Yang banyak model toko2 ruko2 yang jejer-jejer, mungkin kalau surabaya ya di daerah Kertajaya.

Makanan, fast food yang ada cuman KFC dan Pizza hut beberapa, ga ada McD, Burger King, etc. Sama satu lagi yang ada di sini Lotteria, McD nya Korea kalau ga salah. Makanan pinggir jalan, tenda2 sebenernya banyak juga, persis kayak di Indonesia, cuma lagi2 masalah bahasa bikin pusing, kita ga tau mereka jual apa, isinya apa, dan mau beli apa :D

Transport, taxi tarifnya kayaknya masih lebih mahal dari Jakarta, untung diprovide taxi card jadi semua dibayarin kantor. Taxi card ini kirain digesek ke mesin atau gimana, ternyata sama si sopir cuman ditaruh di balik formulir receipt nya dia, terus digeset2/diarsir pake pensil supaya dapat bayangan di form nya tadi, kayak jaman SD. Cara manual :D Sempat juga iseng nyobain ojek, di sini ojek juga ada di mana2, cukup lama jelasi mau ke mananya terus tawar-tawaran pake jari tangan :D

Pengalaman masalah bahasa lagi pas potong rambut, bekal satu kata "Ngan (=pendek)" ternyata ga cukup bikin tukang potong nya motong pendek, untung punya pas foto yang sering buat bikin visa kesimpen di handphone dan ke-pas-an juga pas cepak, jadi tunjukin aja ke tukang fotonya, akhirnya dia ngerti :D

Semalem, malam taun baru, abis makan di salah satu restaurant Indonesia/Malaysia di downtown, jalan di depan restaurant macet total, banyak orang jalan kaki ke arah danau, coba ke sana, jalannya umpel-umpelan, karena semua orang tampaknya pada jalan2 ke tepian danau di downtown, adapemran rumah2an mini, bonsai, bunga, sangkar burung etc, dan yang paling rame, orang sini kayaknya lebih suka bakar dan nerbangin lampion daripada kembang api. Di langit bisa penuh lampion semalem. Cuman jadi mikir, berarti tadi malem pemadam kebakaran standby penuh, karena banyak lampion-lampion tadi sudah turun meskipun apinya belum mati, coba misal turun di tengah halaman rumah kosong dan bakar sesuatu bakal rame kayaknya, belum lagi sempat ada beberapa lampion gagal terbang dan turun di atas kepala orang2 yang sesek-sesekan di jalan deket danau.

Semalem juga tiba2 nyium bau yang sangat familiar, bau jagung bakar, pingin bali tapi rame banget dan lagi malas bahasa tarzan :D

Sudah 10 hari sekarang di Hanoi, dan masih 17 days to go, kita lihat bakal nemu apa lagi yang aneh di sini.

link foto ada di http://picasaweb.google.com/rendo.aw/HanoiVNDec2008

Sunday, December 21, 2008

Travel Notes: Doha, Qatar

Sudah 2x PP Kuala Lumpur - Doha, yang pertama bulan november 2008, yang kedua bulan desember 2008, dengan menggunakan 2 maskapai yang berbeda.

Perjalanan pertama menggunakan Qatar Airways (direct flight) yang berangkat jam 2.30am dari KLIA dan tiba di Doha jam 5.00am. Untuk pulangnya, Qatar airways berangkat jam 1.30am dari Doha dan sampai di KLIA sekitar jam 14.00an. Perjalanan kedua menggunakan Emirates, dari Kuala Lumpur jam 12.00 an tengah malam, transit dulu 5 jam di Dubai dan lanjut ke Doha, sampai di Doha jam 8.30an pagi. Perlu diingat satu, Dubai 1 jam lebih awal dari Doha, jadi hati2 kalau transit di Dubai.

Ulasan tentang kondisi Doha airport sudah pernah dibahas sebelumnya di sini, jadi nggak dibahas lagi kali ini. Qatar dengan penduduk sekitar 1.2juta jiwa in total, bisa dibilang bukan negara arab, tapi lebih sebagai negara India, karena memang penduduknya lebih banyak orang India dan sekitarnya dibanding Qatari asli nya. Penduduk asli Qatari mungkin cuma sekitar 30% dari penduduk total Qatar. Foreigner terbanyak kedua adalah Philipino. Meski ga sebanyak Indian, orang-orang filipin ini meraja-i mall,-mall. Semua penjaga mall sampai carefour hampir pasti philipino. Sebagai orang indonesia, dengan wajah mirip mereka, siap2 aja terima ocehan nggak jelas waktu di kasir atau kadang lagi makan di food court pun tau2 diajak ngobrol dengan bahasa ga jelas. Mereka kebiasaan asal ngomong dulu baru kalau ngeliat lawannya diem aja baru nanya, "are you not phillipino?".

Ok, kembali ke kota Doha nya sendiri, kotanya sudah pasti sebagian besar dari pasir :D, jalanan cukup lebar2, cocok buat orang-orang arab yang nyetir nya gila2 apalagi ditambah mobil2 ber-cc gede2. Hampir semua tipe mobil mewah bisa ditemuin di Doha. Lalu lintas, dibilang parah juga nggak, tapi bisa dibilang, perencanaannya kacau. Salah satu joke di sana bilang, jalanan dibangun setelah gedung dibangun, karena memang, kemana kita menghadap, pasti ada gedung dibangun, dan tanpa henti. Public transportation cukup susah, jadi kalau nggak punya mobil pribadi siap2 susah mau kemana2 apalagi pas jam sibuk. Bus jadwal nggak jelas sedangkan taxi kalau jam sibuk booking nya bisa butuh 2-3 jam. Untuk sewa mobil di Doha juga susah, international driving permit cuma berlaku 1 minggu sejak tanggal kedatangan, dan dari cerita teman2 orang2 Indo yang sudah migrasi ke Qatar, cari SIM di Qatar itu sangat susah, bukan susah lagi. Ujian 3-4 kali gara-gara gagal atau bahkan lebih itu sangat wajar :D Mungkin memang pemerintah membikin ujian yang sangat susah untuk mengurangi kecelakaan, apalagi ditambah denda yang gila2an, kalau nerobos lampu merah, bisa sekian ribu Qatar riyal untuk sekali nerobos, dan untuk speeding, ada denda basic plus ditambah denda progresif sebesar seberapa banyak melewati batas kecepatannya. Tapi tetep semua itu belum bikin kapok kayaknya.

Selain masalah transport, 1 lagi yang jadi masalah adalah aturan "Family Day" di mall-mall dan public recreation area pada setiap hari Jumat dan hari libur nasional. Family day artinya, kalau kita single kita ga boleh masuk. Tapi aturan ini diskriminatif juga, kalau sama orang bule atau sama orang arab asli yang gede2, penjaga2 pintu yang kebanyakan orang filipin ini pada takut dan ngebiarin aja, pas giliran kita wajah asia, langsung disetop abis.

Overall, Doha kota yang enak, terutama musim dingin gini (belum ngerasain pas musim panas dan belum pingin, hehehe), Desember kemarin ini ,malam suhu sudah 16 derajat dan Januari bisa lebih rendah lagi di bawah 10 derajat. 5-10 derajat buat yang sudah biasa tinggal di Eropa pas musim dingin mungkin sudah tergolong anget tapi ada satu yang bikin kepikiran, di hotel nggak keliatan ada heater sama sekali. Untung kemarin masih 16 derajat, selimut sudah cukup untuk tidur dan normal jacket juga sudah cukup buat jalan. Anggap kayak Bandung pas malam hari.

Harga-harga relatif mahal untuk barang-barang pokok, mobil murah, mungkin 2/3 harga di Jakarta atau 1/2 harga di KL karena nggak ada pajak ditambah bensin juga sangat murah. Tapi jangan tanya untuk apartemen, apartemen paling murah , model studio aja sekitar 2000-2500 QR, di atas 6jt rupiah. apalagi yang 2-3 kamar.

begitulah cerita singkat untuk Qatar, foto2 ada di picasa, termasuk foto2 pas sand trip, yang ngelewatin gunung-gunung pasir hingga perbatasan Saudi. Trip ini recommended apalagi kalau dapat driver yang cukup gila bikin naik mobil kayak naik roler coaster naik turun dengan kemiringan 45 derajat lebih.

info lain2, yang lebih official dan terstruktur: http://wikitravel.org/en/Doha