
Sejak pertengahan tahun 2007 lalu, data services atau mungkin lebih dikenal sebagai internet services mulai boom-ing di Indonesia, atau mungkin lebih tepatnya di Pulau Jawa. Tahun 90an akhir, ketika saya masih SMU, di rumah saya masih pakai dial-up dengan modem 56kbps kemudian waktu kuliah saya kebetulan berada di kampus yang infrastukturnya LAN internalnya sedang dalam proses “upgrade” dari kabel coax hitam dan kuning menuju fiber optic walaupun untuk internet access keluarnya masih mengandalkan link gratisan via satelit dari Jepang yang pas-pasan.
Itu dulu, sekarang (setidaknya) di kota-kota besar, kita sudah bisa dengan mudah mendapatkan akses internet kecepatan tinggi baik dengan maupun tanpa kabel. Tentu kecepatan tinggi di sini relative bisa ratusan kbps hingga sekian Mbps (belum sampai puluhan Mbpskarena Indonesia belum punya layanan fiber to the home yang murah seperti di Jepang). Dengan kabel, biasanya orang memilih menggunakan ADSL service nya Telkom atau menggunakan internet dari Cable TV provider. Sedangkan untuk wireless, pilihan menjadi sangat banyak saat ini.
Wireless access pertama kali yang populer mungkin (saya kurang yakin siapa yang duluan) adalah pada waktu IM3 meluncurkan GPRS dengan masa promo gratisan yang cukup lama. Orang-orang pada berlomba-lomba membeli handphone yang support GPRS, yang saat itu populer adalah Siemens ME45 dan Ericsson R520. Speed rata2 60++ kbps terasa cepat dibanding dengan dialup. Bertahan beberapa lama, akhirnya karena gratis dan terlalu banyak yang makai, terutama di daerah2 kost-kostan sekitar kampus, akhirnya speed nya tidak manusiawi lagi, GPRS saat itu kadang hanya cukup buat akses yahoo messenger. Pada saat yang hampir bersamaan, wireless LAN mulai bermunculan, hotspot-hotspot mulai banyak dipasang di public area walaupun sebagian besar tidak gratis tetapi sudah cukup memberikan alternatif akses internet. Dengan adanya wifi, pengguna laptop mulai marak.
Setelah GPRS dari IM3, sekitar akhir 2003 atau awal 2004, jaman beralih ke cdma-1x nya Mobile8 dan Telkom Flexi. 150an kbps pada saat kondisi ideal cukup jauh mengalahkan GPRS speed saat itu apalagi saat Mobile8 mengimplementasikan EV-DO. Di daerah Senen, saya mendapatkan speed hampir 2.4 Mbps pada saat menjajal modem EV-DO buatan Korea.
Tahun 2005 akhir, 3G mulai diimplementasikan di Indonesia, GPRS 3G dengan speed max 384 kbps cukup untuk mengalahkan cdma-1x tetapi masih kalah dengan EVDO sebenarnya. Tetapi karena pada saat itu evdo sepertinya sudah agak macet implementasinya, dan kualitas cdma-1x sendiri yang cukup parah, akhirnya pada pertengahan/akhir 2006, orang pada beralih ke 3G di mana pada saat itu coverage 3G juga sudah mulai luas. Tahun 2007, HSDPA mulai bermunculan, dimulai dari 1.8 Mbps, 3.6 Mbps hingga 7.2 Mbps sekitar September/Oktober 2007.
Dan akhirnya, sekarang pada saat tulisan ini dibuat, mendapatkan speed 5 Mbps itu tidak terlalu susah, syaratnya, berada di dekat base station 3G yang support HSDPA 7.2 DAN TIDAK BERADA DI DAERAH YANG BANYAK KOST-KOSTAN. Ada joke dari beberapa teman, kalau ingin internet cepat, tinggal aja di komplek yang banyak orang-orang tua nya
Sekarang harga internet access sudah mulai bervariasi dan mulai turun. Mulai dari yang volume based murni, time based, volume based dengan paket quota, unlimited dengan quota di mana setelah lewat quota speed akan diturunkan, tinggal satu yang belum, unlimited yang benar-benar unlimited tanpa quota tetapi dengan kualitas yang tetap terjaga.
Sampai di sini bagian pertama dari tulisan saya tentang GPRS kali ini, posting berikutnya akan membahas flow GPRS secara umum baik untuk GSM, WCDMA maupun HSDPA, dan dilanjutkan dengan QoS di GPRS itu sendiri.
Tulisan saya kali ini akan mencoba memberikan gambaran bagaimana QoS diaplikasikan dalam GPRS network.
