Rendo Ariya Wibawa

Thursday, November 27, 2008

GPRS Talk Part 1: History


Sejak pertengahan tahun 2007 lalu, data services atau mungkin lebih dikenal sebagai internet services mulai boom-ing di Indonesia, atau mungkin lebih tepatnya di Pulau Jawa. Tahun 90an akhir, ketika saya masih SMU, di rumah saya masih pakai dial-up dengan modem 56kbps kemudian waktu kuliah saya kebetulan berada di kampus yang infrastukturnya LAN internalnya sedang dalam proses “upgrade” dari kabel coax hitam dan kuning menuju fiber optic walaupun untuk internet access keluarnya masih mengandalkan link gratisan via satelit dari Jepang yang pas-pasan.

Itu dulu, sekarang (setidaknya) di kota-kota besar, kita sudah bisa dengan mudah mendapatkan akses internet kecepatan tinggi baik dengan maupun tanpa kabel. Tentu kecepatan tinggi di sini relative bisa ratusan kbps hingga sekian Mbps (belum sampai puluhan Mbpskarena Indonesia belum punya layanan fiber to the home yang murah seperti di Jepang). Dengan kabel, biasanya orang memilih menggunakan ADSL service nya Telkom atau menggunakan internet dari Cable TV provider. Sedangkan untuk wireless, pilihan menjadi sangat banyak saat ini.

Wireless access pertama kali yang populer mungkin (saya kurang yakin siapa yang duluan) adalah pada waktu IM3 meluncurkan GPRS dengan masa promo gratisan yang cukup lama. Orang-orang pada berlomba-lomba membeli handphone yang support GPRS, yang saat itu populer adalah Siemens ME45 dan Ericsson R520. Speed rata2 60++ kbps terasa cepat dibanding dengan dialup. Bertahan beberapa lama, akhirnya karena gratis dan terlalu banyak yang makai, terutama di daerah2 kost-kostan sekitar kampus, akhirnya speed nya tidak manusiawi lagi, GPRS saat itu kadang hanya cukup buat akses yahoo messenger. Pada saat yang hampir bersamaan, wireless LAN mulai bermunculan, hotspot-hotspot mulai banyak dipasang di public area walaupun sebagian besar tidak gratis tetapi sudah cukup memberikan alternatif akses internet. Dengan adanya wifi, pengguna laptop mulai marak.

Setelah GPRS dari IM3, sekitar akhir 2003 atau awal 2004, jaman beralih ke cdma-1x nya Mobile8 dan Telkom Flexi. 150an kbps pada saat kondisi ideal cukup jauh mengalahkan GPRS speed saat itu apalagi saat Mobile8 mengimplementasikan EV-DO. Di daerah Senen, saya mendapatkan speed hampir 2.4 Mbps pada saat menjajal modem EV-DO buatan Korea.

Tahun 2005 akhir, 3G mulai diimplementasikan di Indonesia, GPRS 3G dengan speed max 384 kbps cukup untuk mengalahkan cdma-1x tetapi masih kalah dengan EVDO sebenarnya. Tetapi karena pada saat itu evdo sepertinya sudah agak macet implementasinya, dan kualitas cdma-1x sendiri yang cukup parah, akhirnya pada pertengahan/akhir 2006, orang pada beralih ke 3G di mana pada saat itu coverage 3G juga sudah mulai luas. Tahun 2007, HSDPA mulai bermunculan, dimulai dari 1.8 Mbps, 3.6 Mbps hingga 7.2 Mbps sekitar September/Oktober 2007.

Dan akhirnya, sekarang pada saat tulisan ini dibuat, mendapatkan speed 5 Mbps itu tidak terlalu susah, syaratnya, berada di dekat base station 3G yang support HSDPA 7.2 DAN TIDAK BERADA DI DAERAH YANG BANYAK KOST-KOSTAN. Ada joke dari beberapa teman, kalau ingin internet cepat, tinggal aja di komplek yang banyak orang-orang tua nya 

Sekarang harga internet access sudah mulai bervariasi dan mulai turun. Mulai dari yang volume based murni, time based, volume based dengan paket quota, unlimited dengan quota di mana setelah lewat quota speed akan diturunkan, tinggal satu yang belum, unlimited yang benar-benar unlimited tanpa quota tetapi dengan kualitas yang tetap terjaga.

Sampai di sini bagian pertama dari tulisan saya tentang GPRS kali ini, posting berikutnya akan membahas flow GPRS secara umum baik untuk GSM, WCDMA maupun HSDPA, dan dilanjutkan dengan QoS di GPRS itu sendiri.


Tulisan saya kali ini akan mencoba memberikan gambaran bagaimana QoS diaplikasikan dalam GPRS network.

Wednesday, November 19, 2008

Doha airport

Arrival: peswat mendarat di tengah lapangan,dijemput bis,dibawa ke
terminal kedatangan yang ukurannya kayak terminal kedatangan bandara
juanda yg lama. Imigrasi lancar,cukup bawa printout visa,langsung
dibelakangnya tempat ambil bagasi. Keluar dari situ langsung tempat
parkir.

Departure: lebih besar dari arrival, 2 lantai. Di bawah ada duty free
standard,di atas ada duty free cocok buat oleh2. Dan yang paling
penting wifi gratis meskipun cuma 64kbps,kayaknya gara2 yg pake cukup
rame. Dan satu lagi, COLOKAN LISTRIK bertebaran dimana2,di setiap
ujung/tiang tembok. Setelah muter2 akhirnya nemu satu colokan
nganggur.

Cerita tentang doha sendiri bakal ada di posting terpisah,kalo sudah
ketemu keyboard yg proper :D

:sent from my P1i with free wifi@doha airport:

--
Sent from my mobile device

Sunday, November 09, 2008

FaceBook Markup Language

Gara2 ga sengaja nemu buku Building FaceBook Application For Dummies, bisa di download di
sini
(moga2 ga kena pasal pembajakan buku), setidaknya hari ini sudah lewat Bab 1, bikin Hello World di facebook, nyontek abis dari buku, edit2 minor doang, dan hasilnya, aplikasi super simple untuk nge list Facebook friend kita.

Buat PHP dan Java programmer, FaceBook sudah menyediakan API khusus tinggal pake. Ternyata konsep nya tidak sesusah yang dibayangkan. Kita buat aplikasi di server kita sendiri, facebook tidak menyediakan hosting aplikasi, kita register aplikasi kita di apps.facebook, dan aplikasi kita sudah bisa digunakan oleh user2 facebook. That's it.

Jadi, aplikasi2 di facebook yang mungkin sebagian besar dari kita sudah pernah makai, itu semua di hosting di server pembuatnya masing2, begitu kita akses aplikasi tersebut, facebook berfungsi sebagai proxy akan akses ke server aslinya. Ada 2 cara menampilkan output aplikasi kita di facebook, dengan menggunakan FBML itu sendiri atau menggunakan iframe. Belum sempat explore lebih detil lagi, maklum baru tamat Bagian 1.

OpenID

OpenID? apa itu?
Personally, selama ini aku juga nggak terlalu jelas implementasinya seperti apa, cuma tau kalau OpenID itu bertujuan supaya kita tidak perlu menghapalkan banyak username dan password untuk setiap account yang kita punya.

Karena penasaran, akhirnya coba googling lagi kemarin, openid for dummies dan nemu url ini http://www.webmonkey.com/tutorial/OpenID_for_Dummies. Dari url tadi, banyak link2 ke tempat lain yang ternyata lebih menjelaskan, salah satunya adalah gambar di bawah ini yang kudapat dari http://framework.zend.com/manual/en/zend.openid.html
 
Dari diagram di atas keliatan kalau pada saat user melakukan authentikasi ke suatu website dengan menggunakan openid, si webserver akan men-cek ke openid provider, jika ada respon, maka si webserver tadi akan mengirimkan instruksi redirect ke browser si pengguna ke arah website si openid auth provider supaya si user melakukan auth di sana dan si webserver yang pertama kali diakses si user tadi cukup menerima hasil auth dan identitas si user dari si openID provider. Selanjutanya, gambar di atas sudah bercerita dengan sendirinya.
Sisi lainnya adalah, dengan openid ini berarti ada 3 pihak, pihak pertama adalah si user, pihak kedua adalah webserver yang diakses si user dan butuh mem-verify id si user, kadang2 disebut juga sebagai openid client, dan pihak ketiga adalah openID provider. Setiap orang bisa menjadi OpenID client maupun sebagai OpenID provider, selanjutnya tinggal masalah siapa percaya terhadap siapa. 
Kepercayaan/Trust adalah masalah yang cukup penting di sini karena di openID system tidak ada satu badan khusus yang memverify para openID provider seperti Verisign untuk SSL misalnya. Kalau semua orang bisa menjadi openID provider,  apa gunanya di auth lagi? contoh gampangnya, spammer dengan mudah bikin openID provider sendiri dan dia bisa dengan mudah masuk ke semua blog, bikin comment2 ga jelas di sana. Karena itu realitynya nanti, menurutku semua openID client tidak akan dengan mudah percaya terhadap semua openID provider yang ada, ujung-ujungnya akan kembali ke openID provider yang sudah punya user based yang banyak dan bisa dipercaya misalnya Google dan Yahoo.
Buat yang tertarik mencoba bikin openID provider sendiri, http://siege.org/projects/phpMyID/ menyediakan fungsi PHP nya, tinggal pakai. Aku udah coba dan jalan. Mungkin tidak bisa berharap banyak dari OpenID server yang private sifatnya seperti ini karena pertama ya masalah trust tadi dan kedua site kita harus hidup terus jangan sampai down pada saat kita butuh akses website yang menggunakan openID. Tapi, sangat recommended dicoba, sangat membantu kalau pingin lebih ngerti cara kerja openID.
Btw, kalau anda perhatikan site blog ini (semoga belum kuremove), http://rendo.blogspot.com otomatis ter-ganti jadi http://openid.rendo.info. Ini sebenernya nggak sengaja, hasil coba2 memanfaatkan blogger ID sebagai OpenID tapi instead of pakai domain asilnya blogspot.com, aku coba map ke subdomain ku sendiri.

Saturday, November 08, 2008

My Honda Tiger 2001




status:
- ditinggal di Jakarta
- not for sale